Fish

Kamis, 27 Januari 2011

Adab Murid Kepada Syaikh

           Ketahuilah, saudaraku, bahwa pilar adab kepada syaikh adalah kecintaan kepadanya. Barangsiapa tidak tulus mencintai syaikhnya dengan menguasai semua syahwatnya, maka ia tidak akan memperoleh keuntungan di dalam tarekat. Sebab kecintaan pada syaikh adalah tigkat kecanduan. Darinya murid naik ke hadirat Ilahi. Barangsiapa tidak mencintai prantara darinya dan tuhannya, termasuk Nabi SAW., maka dia adalah seorang munafik. Tempat orang munafik adalah dasar neraka paling bawah. Bila engkau mengetahui hal itu, akan aku sebutkan kepadamu beberapa sifat orang-orang yang mencintai syaikh mereka agar engkau mengetahui ihwal apakah engkau termasuk orang-orang yang tulus atau pendusta.
            Dengan taufik Allah, kukatakan: Para ahli tarekat sepakat bahwa termasuk sifat-sifat murid yang tulus dalam mencintai syaikh adalah bertobat dari segala dosa untuk mensucikan dirinya dari segala aib.
            Barangsiapa melumuri dirinya dengan dosa dan mengaku mencintai syaikhnya, maka ia adalah pendusta. Karena ia tidak mencintai syaikhnya maka syaikhnya pun tidak mencintainya. Jika syaikhnya tidak mencintainya, maka Allah pun tidak mencintainya, Alah berfirman:
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencnitai orang-orang yang mensucikan diri (QS 2:233).
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan (QS 28:27).
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri (QS 4:36).
Sesungguhnya Allah tidak meridhoi tipu daya  orang-orang yang berkhianat (QS 12:52).

KEINDAHAN CINTA
Aku mendengar saudaraku, Afdhaludin r.a., berkata “termasuk mabok cinta yang paling indah adalah kesibukan dengan cinta sehingga lupa pada sesuatu ang dicintainya. Dituturkan bahwa Layla datang kepada majnun yang sedang berteriak-teriak, ‘Layla..,layla..,layla..!’beliau mengambil es batu dan menempelkan ke dadanya sehingga panas didadanya meleleh. Kemudian, Layla mengucapkan salaam kepadanya, sementara ia dalam keadaan seperti itu. Layla berkata,’akuah kekasihmu.akulah dambaanmu.akulah permata hatimu.akulah Layla.’ Majnun berkata,’untukmu cintaku, karena cinta kepadamu telah melalaikanku darimu.’
Aku mendengar Sidi’Ali Al khawwash r.a. berkata,’’sesuatu yang paling indah di dalam cinta adalah kecintaan luar biasa, kecintaan yang menggelisahkan, yang kau dapatkan dalam dirimu sehingga membuatmu tidak tidur dan tak bisa merasakan lezatnya makanan, sementara tidak diketahui cinta itu kepada siapa, tidak jelas siapa yang engkau cintai. Dari situ engkau naik ke tingkatan cinta mutlak kepada Allah. Mereka berkata,”hal yang paling sulit di dalam cinta adalah bahwa murid mencintai hijrah dan menikmatinya bila ia mengetahui bahwa syaikhnya mencintai hijrahnya. Sebab, membebaskan bagian nafsu dari bagian syaikh sangatlah sulit. Kesimpulannya adalah bahwa murid mencintai hijrah karena hijrah ini dicintai syaikhnya, bukan karena alasan lain. Sebab pilar dalam mencintai syaikh adalah berhubungan dengannya dan bukan meninggalkannya.”
Aku mendengar saudaraku, Afdhaludin r.a., berkata, “hakikat mencintai syaikh adalah mencintai segala sesuatu karenanya dan membenci segala sesuatu sebagaimana keadaannya dalam mencintai Tuhan kita, Allah. Hl ini diperkuat dengan apa yang disebutkan dalam hadist: seorang hamba datang pada Hari Kiamat dengan membawa banyak sholat, puasa, haji, dan sodaqoh. Dengan hal tersebut para malaikat bersaksi baginya. Namun, Allah berfirman,’perhatikanlah apakah dia setia kepada wali-Ku ataukah ia menentang musuh-Ku?’”

SIFAT PARA PENCINTA
            Syaikh Muhyidin Ibn Al-‘Arabi menyebutkan dalam bab ke-178 dalam al-Futuhat al-Makiyah bahwa yang termasuk sifat-sifat para pecinta adalah bahwa siapapun dari mereka terbunuh dan rusak demi kekasih-Nya sambil terus menerus berjalan menuju hadirat-Nya, selalu terjaga dari tidur, menyembunyikan kesedihan, suka keluar dari segala sesuatu yang melalaikannya dari-Nya berupa syahwat dunia dan akhirat, merasa bosan bersahabat dengan segala sesuatu yang menabirinya dari kekasihnya, sering mengeluh sambil menenangkan diri dengan kalam kekasihnya dan menyebut nama-Nya, selalu bersahabat dengan orang yang dicintai Kekasihnya, takut meninggalkan kemulyaan dalam mempersembahkan bakti kepada-Nya, menganggap sedikit sesuatu yang banyak dari dirinya dalam hak Kekasihnnya, menganggap banyak sesuatu yang sedikit dari Kekasihnya-Nya. Selalu taat kepada Kekasihnya, menjauhkan diri menentang-Nya. Keluar dari seluruh nafsunya, tidak menuntut denda atas terbunuh dirinya, bersabar atas kesempitan akibat ditinggalkan tabiat, melaksanakan apa yang ditugaskan Kekasihnya kepadanya, selalu berkobar cinta kepada Kekasihnya dan menempatkan dirinya dalam kecintaan apa saja yang diinginkan Kekasihnya, hanya ingin selalu berama kekasihnya, mencela diriny dan mmbela hak Kekasihnya, cemburu kepada Kekasihnya dari dirinya, tidak ingin terlihat bersama syahwatnya, cintanya tidak kelebihan dengan berbuat baik kepada-Nya dan tidak pula kekurangan dengan menelantarkan-Nya, lupa kepada nafsunya, ingat kepada Kekasihnya, tidak diketahui sifat-sifatnya seakan-akan ia adalah pencuri padahal bukan pencuri, tidak siuman dari mabuknya di antara sampai dan berangkat, tidak pernah tanya Kekasihnya mengapa engkau melahkukan hal ini?’atau’Mengatakan engkau berkata begini?’. Rahasianya adalah terang-terangan; kebahagiaannya adalah kesedihan. Maqamnya adalah diam; keadaannya dipahami darinya. Karena dimabuk cinta, ia mencari keridhaan Kekasihnya atas semua dorongan nafsunya.”
            Syaikh Muhyiddin juga berkata.”Termasuk hal-hal indah yang sampai kepada kami dari para pecinta adalah bahwa ia menemui seorang syaikh dan ia melihatnya sedang berbicara tentang cinta. Sang pencinta terus-menerus luluh dan keringatnya hingga ia seluruh tubuhnya rebah diatas tikar dihadapan syaikh dan menjadi sebuah bejana air. Kemudian, teman-teman pecinta itu menemui syaikh dan bertanya kepadanya,’dimanakah si fulan?’Syaikh menjawab, ‘inilah ia,’ sambil menunjuk pada air itu, dan ia menceritakan kisahnya. Hadirin pun terheran-heran atas kejadian itu.”
            Beliau juga berkata, “Hal ini adalah penguraian yang aneh dan hal yang menakjubkan di mana kekerasannya berubah menjadi lembut hingga menjadi air.”



BAHASA PARA PENCINTA SYAIKH
            Ketahuilah bahwa termasuk sifat-sifat para pencinta adalah bahwa mereka berbicara dengan bahasa cinta, kerinduan, dan kemabukan, dan bukan dengan bahasa ilmu, akal dan pengkajian, seperti jawaban yang diberikan burung laying-layang jantan kepada Sulaiman a.s.
            Hal itu karena burung laying-layang jantan mengintip burung laying-layang betina di dalam kubah Sulaiman a.s. Burung laying-layang jantan berkata kepada burung laying-layang betina,”Karena begitu besarnya rasa cintaku padamu, sekiranya engkau berkata kepadaku,’Hancurkan kubah di atas Sulaiman a.s.,’aku pasti melahkukannya.”angina pun membawa ucapan burung layang-layang jantan kepada Sulaiman a.s.. Mendengar ini, Sulaiman berkata kepadanya,”Apa yang menyebabkan engkau berkata demikian, padahal engkau makhluk yang lemah?”Beliau menjawab,”Tenanglah wahai nabi Allah! Aku adalah pecinta. Para pecinta hanya berbicara dengan bahasa cinta dan kemabukan, bukan dengan bahasa ilmu dan akal.”Sulaiman pun tertawa mendengar ucapannya dan tidak menghukumnya.

BILA PENYINGKAPAN SULIT DIPEROLEH MURID MUSTI MENCELA DIRINYA SENDIRI
            Diantara adab murid kepada syaikhnya bila sulit mendapatkan penyingkapan adalah bahwa hendaklah ia meminta maaf kepada syaikhnya dan mencela dirinya, bukan mencela syaikhnya. Beliau berkata,”Kekurangan itu ada padaku.”Allah berfirman kepada Penghulu Para Rasul, Nabi SAW.,”Engkau sekali-kali tidak dapat menunjuki orang-orang yang engkau cintai.’Bila Nabi SAW aja sudah demikian keadaannya, apalagi syaikhku, karena Allah senantiasa menguasai keadaannya. Setiap generasi senantiasa mengakui ketidakmampuan mereka dalam menggapai maqam orang-orang terdahulu bagi orang-orang kemudian.
            Dalam risalah pertamanya. Al-Qusyairi berkata,”ketahuilah, saudara-saudaraku, bahwa para muta haqqiq dari kelompok ini sebagian besar telah musnah, dan yang tersisa dari tarekat ini di zaman kita sekarang hanyalah jejak-jejak mereka saja.”Kemudian beliau mengubah syair berikut.

Kulihat tenda, tetapi bukan tenda mereka.
Kulihat perempuan, tetapi bukan perempuan mereka.

            Kemudian beliau berkata,”tarekat itu telah mengalami kelemahan. Tidak, bahkan tarekat itu telah hilang. Para syaikh yang dapat memberikan bimbingan telah tiada. Sementara itu, sedikit sekali anak muda yang mengikuti riwayat hidup dan sunnah mereka. Kewaraan dan kesederhanaan telah hilang dari hati sehingga mereka menganggap sedikitnya perhatian pada kemaksiatan dan syahwat sebagai perantaraan yang paling kuat…(dan seterusnya).”
            Bila ucapan al-Quasyairi di zamannya saja seperti ini, lalu apa yang dikatakan seseorang tentang generasi paruh kedua abad ke-10 yang hidup dalam keterasingan?alhamdulillah, aku telah mengenal lebih dari tujuh puluh orang syaikh, dan mereka semuanya dan mereka semuanya telah meninggal tanpa memiliki murid yang mengagumkan mereka.
            Keauhilah bahwa maqam syaikh di zaman sekarang ini merupakan kesulitan bagi murid dan orang yang mencari syaikh yang memiliki sifat-sifat seperti disebutkan Imam al-Junaid, misalnya. Seakan-akan keberadaannya merupakan sesuatu yang mustahil di zaman sekarang ini. Namun jika ada syaikh yang lebih mengetahui  tarekat daripada murid, maka hal itu sudah mencukupi. Murid harus meningkatkan diri dengannya. Sebab, barangsiapa tidak memiliki syaikh, maka ia tidak akan berhasil di dalam tarekat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

TIDAK MEMASUKI TAREKAT SEBELUM BERTOBAT
Abu ‘Ali ad-Daqqaq r.a. berkata, “Jika murid tidak memiliki guru sebagai sumber langsung tarekatnya, maka ia menjadi penyebab hawa nafsunya. Kaum sufi sepakat barang siapa tidak bertaubat di tangan syaikhnya atau orang lain dari segala dosa, baik yang dilahkukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, baik yang kecil maupun yang besar, dan menyayangi semua musuhnya, maka ia tidak mendapatkan penyingkapan sedikitpun di dalam tarekat ini. Hal itu karena tarekat kaum sufi seluruhnya adalah hadirat Allah, seperti hadirat shalat atau seperti surga. Sebagaimana shalat tidak sah bila ada najis dan tidak masuk surga orang yang mengikuti nafsu, maka begitu pulalah tidak masuk tarekat orang-orang yang berbuat kemaksiatan dan mengikuti nafsu.
Abu al-Qasim al-Qusyairi r.a. berkata, “Murid harus membetulkan perjanjiannya dengan Allah agar ia tidak menyalahi syakhnya dalam segala sesuatu yang ditunjukan kepadanya. Hal itu karena penentangan murid merupakan bahaya yang besar. Barangsiapa memulai tarekatnya dengan menentang gurunya, maka ia senantiasa menentang di hari kemudian
MURID TIDAK MENYEMBUNYIKAN KEADAANNYA DARI SYAIKHNYA
MURID TIDAK MELAKUKAN SESUATU YANG MEMBUAT SYAIKHNYA MARAH 
           Diantara adab murid kepada syaikhnya adalah tidak melahkukan sesuatu di samping syaikhnya yang membuat hati syaikhnya kesal, karena Allah kadang-kadang murka karena kemarahan syaikhnya dan ridha karena keridhaannya. hal itu kadang-kadang merupakan penghormatan tertinggi. Penjelasannya adalah bahwa syaikh menyuruh muridnya adalah pastilah dengan sesuatu yang diperintahkan Allah. Oleh karena itu, barang siapa yang menentangnya, maka ia jatuh dalam kemurkaan Allah menurut besar atau kecilnya kemaksiatan tersebut. betapa malahnya orang yang mengubah hati syaikhnya walaupun sesaat. Jika murid menemukan orang yang beradab seperti itu di negerinya, maka orang itu harus pergi kepada orang yang diangkat di zamannya untuk membimbing murid-murid. Kemudian, ia tinggal disisinya dan tidak meninggalkan pintu rumahnya sampai ia memperoleh penyingkapan. Kemudian, jika syaikhnya menyambutnya dengan dingin dan tidak memperhatikan keadaannya, maka hendaklah ia bersabar. Kadang-kadang syaikh melahkukan hal itu untuk memperlihatkan kepadanya kemuliaan tarekat agar ia memasukinya dengan penuh kehormatan dan tidak merendahkan-nya. Kadang-kadang syaikh menyuruh orang-orang untuk menampar tengkuknya dan tidak member jalan untuk masuk zawiyah, sebagaimana hal itu terjadi pada Sidi Muhammad al-Ghamri dengan Sidi Ahmad az-Zahid.

            Kadang-kadang syaikh salah ucapan dalam perkataan untuk menguji murid bila itu adalah kesalahan dalam tatabahasa (nahwu), seperti yang terjadi pada Sidi Syaikh Abu as-Su’ud al-Jahiri dengan Syaikh Muhibuddin al-Luqani. ketika Syaikh Abu as-Su’ud al-Jirahi mendatanginya, beliau mengatakan sebagai berikut;
Orang-orang berprasangka baik padaku,
padahal akulah seburuk-buruk manusia,
sekiranya ia tak memaafkanku.

          Orang-orang banyak menghormatinya, padahal beliau merasa dirinya paling jahat. Beliau pun meninggalkannya tanpa kata-kata. Beliau berkata, “Hal ini tidak diketahui mana subjek (fa’il) dan mana objek (maf’ul). “Beliau melihat dengan penglihatan yang mengandung penghormatan. Lalu beliau mulai menceritakan hal itu kepadany. Pertama kali melihatnya, syaikh berkata, “ Beliau benar di hadapan orang banyak padahal beliau adalah orang yang sangat jahat. ”Syaikh Muhibudiin berkata,”Allahu akbar!” Beliau berkata, “Bagi setiap penentang adab, bagaimana engkau mencari tarekat, sementara engkau lari dari hadapannya? Engkau datang mengagungkannya.” oleh karena itu, beliau bertobat dan memohon ampunan. Syaikh berkata kepadanya, “ Aku telah lama sekali menyibukkan diri dengan nahwu. Aku hanya mengujimu.”
           Abu al-Qasim al-Qusyairi r.a. berkata, ‘ setiap orang yang mengunjungi setiap syaikh wajib menemuinya dengan span santun dan penghormatan, apalagi bila syaikh itu adalah gurunya. Kemudian, jika syaikh ramah kepadanya karena kidmatnya, maka hal itu merupakan kenikmatan yang banyak. oleh karena itu, berhati-hatilah jangan menggunakan timbangan akalnya yang sesat atas orang yang ditemuinya. Kadang-kadang syaikh membencinya sehingga ia tidak memperoleh hasil untuk selama-lamanya. Bahkan, sebagian dari mereka masuk Kristen dan mati dalam agama Kristen, seperti telah dikisahkan.”
           Aku mendengar Sidi Muhammad asy-Syanawi r.a. berkata, “ Termasuk hal-hal yang dikaruniakan Allah adalah bahwa setiap kali aku menemui seorang syaikh, timbangan akalku dikalahkan dan aku melihat diriku dibawah sandalnya sehingga aku pergi meninggalkannya dengan mendapatkan pertolongan dan faedah.”
MEMINTA IJIN KEPADA SYAIKH
            Diantara adab murid kepada syaikh adalah tidak bepergian kecuali dengan izin syaikhnya, karena mengetahui adab kepada tuan rumah di dahulukan daripada mengetahui adab rumah. Barangsiapa pergi kerumah sebelum mengenal pemilik rumah dengan pengenalan yang dikenal kaum sufi, maka ia telah menyalahi tarekat dan tidak memperoleh bantuannya. Beliau akan kesulitan untuk menggugurkan argument (hujjah) Islam. Terdapat perbedaan besar antara argument syaikh Islam dan argument orang-orang awam.
           Puncak keadaan orang yang berhaji tanpa izin syaikhnya adalah kehancuran hatinya dari perindahannya dari satu lembah ke lembah lain. Sekiranya saja ia berjalan satu langkah dengan petunjuk syaikhnya, hal itu lebih baik dagingnya daripada seribu perjalanan tanpa sepengetahuan syaikhnya. Para ulama kita berkata, “Suami boleh menceraikan istrinya yang melaksanakan haji sunnah bila ia tidak meminta izin. Demikian pula, izin adalah fardhu di dalam mahzab ini. tingkat ketaatan kepada syaikh yang paling rendah adalah seperti istri kepada suami. Syaikh bertindak kepada murid seperti suami bertindak kepada istri dan hal memberikan larangan dan bimbingan.
            Telah sampai berita kepada kami bahwa Syaikh Yusuf al-Quthuri menemui Sidi Muhammad al-Hanafi asy-Sadzili r.a. dan member ragi pada adonan. Sidi Muhammad berkata kepadanya, “Lepaskan surbanmu dan bantulah kami.” Beliaupun melepaskan surbannya dan membubuhkan ragi pada adonan. Setelah itu, Syaikh Muhammad tidak mengatakan kepadanya agar memakai kembali surbannya. Oleh karena itu beliau terus tidak bersurban hingga meninggal dunia. Ketika ditanya tentang hal itu beliau menjawab, “Guruku tidak menyuruhku memakainya setelah beliau menyuruhku untuk melepaskannya. Jika aku memulai bicara kepadanya untuk memakainya, maka hal itu bukanlah adab yang baik,”Demikian jawabnya. Hal ini merupakan adab yang luhur. Aku belum pernah mendengar hal seperti ini dari murid sebelumnya, sekalipun lebih utama berbicara kepada syaikh untuk memakainya. Hal itu karena memakai surban merupakan sunnah Rasulullah saw.
             Termasuk adab murid adalah menyakini kesempurnaan syaikhnya, hal itu dilahkukan dengan meyakini bahwa syaikh lebih tahu daripada dirinya tentang jalan syariat dan hakikat. Kaum sufi berkata, “Namun, tidak boleh berlebih-lebihan dalam menyakini kesempurnaan syaikh sehingga memandang suci dari segala dosa.”
             Imam al-Qusyairi r.a. berkata, “Tidak sepantasnya murid menyakini bahwa syaikh dan kawan-kawannya suci dari dosa. Namun, mereka wajib patuh dalam menjalankan perintah dalam kebaikan yang mereka perintahkan kepadanya, membiarkan mereka dalam keadaan mereka dan berbaik sangka kepada mereka, dan memelihara hukum-hukum Allah yang ditunjukkan dan sampai kepadanya dengan ilmu syariat yang memungkinkannya membedakan perbuatan terpuji dan perbuatan tercela. dengan demikian ia dapat mengamalkan apa yang diperintahkan kepadanya dan meminta fatwa dari mereka dalam hal-hal yang sulit baginya.”
            Beliau juga berkata, “ Bukti yang paling nyata ikhwal kebahagiaan murid adalah penerimaan hati para syaikh atas dirinya. setiap orang yang ditolak hati seorang syaikh mutahaqqiq pasti melihat akibatnya sekalipun kurun waktu lama sesudah itu. Barangsiapa bersikap sombong dan tidak menghormati para syaikh, maka ia telah menampakkan kesengsaraannya. “Wallahu a’lam.
TIDAK MARAH ATAS TUGAS DARI SYAIKHNYA
           Diantara adab murid kepada syaikhnya adalah bahwa jika syaikhnya menugaskannya untuk berkidmat, baik dalam perjalanan maupun di dalam rumah, sehingga ia tidak dapat menghadiri majlis dzikir hendaklah ia tidak marah. Sebab, syaikh hanya memperkerjakannya dalam hal-hal yang dipandangnya baik baginya dari berbagai aspek. Jika ia marah atau memandang ada pekerjaan lain yang ebih utama, maka ia telah membatalkan perjanjiannya dengan syaikhnya, karena syaikh adalah kepercayaan Rasulullah saw. untuk umatnya. Beliau juga dituntut melahkukan sesuatu yang dapat meninggikan maqamnya dan mencegah sesuatu yang dapat merendahkan maqamnya. Kadang-kadang, sesuatu dituntut murid mendatangakan bangga diri, riya’, dan syahwat, atau perasaan ingin dipuji di tengah orang banyak sehingga murid bersama-sama orang yang merugi. Telah sampai berita kepada kami bahwa Sidi Ibrahim al-Muwahibi-ketika datang kepadanya Sidi Syaikh Abu al-Mawahib untuk mencari tarekat dengan mendahulukan adab kepada Allah-disuruh diam di dalam kandang keledai dan memenuhi kebutuhan rumahnya. Syaikh Abu al-Mawahib berkata kepadanya, “Waspadalah agar engkau jangan duduk bersama kaum faqir untuk membaca hizb atau ilmu.” Beliau pun mematuhinya. Beliau tinggal disana beberapa tahun hingga menjelang syaikhnya wafat. Sahabat-sahabat dekatnya bersaing untuk memperoleh izin untuk menggantikannya. Namun ia berkata, “Pergillah Ibrahim ke hadapanku!” Mereka pun memanggilnya. syaikh menghamparkan sajadah untuknya dan berkata,” Berbicaralah kepada teman-temanmu dalam tarekat ini!” Kemudian ia menampakkan hal-hal yang menakjubkan dan aneh berupa nazham dan natsar sehingga hadirin pun terkagum-kagum. Orang-orang yang tadi bersaing untuk mendapatkan izin kembali dan mereka takjub dengan hal itu. Sidi Ibrahim menggantikan Syaikh Abu al-Mawahib dan tidak sedikit pun dari keadaan tarekat tampak pada kaum sufi. Dengan demikian, tahulah ia bahwa mengetahui hal-hal yang mendatangkan penyingkapan berasal dari Syaikh, bukan dari murid.
            Imam al-Qusyairi berkata, “ Jika syaikh menyuruh murid agar berkhidmat kepada teman-temannya, maka hendaklah ia mengikhlaskan niatnya dalam hal itu dan bersabar atas sikap mereka yang menelantarkannya sambil terus meningkatkan khidmatnya tanpa mendapatkan pujian dari mereka. Hendaklah ia meminta maaf kepada mereka yang dan berkata, “Aku adalah orang dzalim yang tidak melaksanakan keinginan kalian sehingga kalian menelantarkanku.’ Beliau juga mengakui kejahatan itu di dalam dirinya, walaupun ia tahu bahwa ia telah dimaafkan selama dalam hal yang tidak ada penghormatan yang wajib. Pengakuannya itu, padahal yang demikian itu tidak menimpa dirinya, merupakan kedzaliman atas dirinya, dan hal itu adalah haram.
MEMELIHARA ADAB KEPADA SYAIKHNYA DI MAJELIS ZIKIR
            Di antara adab murid kepada syaikhnya adalah bahwa jika ia mendiamkan jamaah di majlis dzikir, maka setelah itu ia tidak boleh melahkukan dzikir, karena syaikh mengisyaratkan kepada mereka untuk diam, kecuali sekedar meminta ijin kepada Allah dengan hatinya dan mengetahui ijin yang diberikan kepadanya melalui pengilhaman tentang mendiamkan mereka atau tidak. Biasanya, ia mengetahui hal itu dengan kelapangan dan kesempitan hati. Jika hatinya lapang untuk mendiamkan mereka, maka diamlah mereka. Sebaliknya, jika hatinya sempit, maka biarkanlah mereka di dalam dzikir. Hal itu telah dijelaskan pada bab pertama.
             Syaikh kami, Sidi Ali al-Murshifi r.a., berkata, “Ketika aku menjalin perjanjian dengan syaikhku bahwa aku tidak akan menyalahinya dan tidak menyembunyikan sedikit pun keadaanku darinya, aku tidak makan, tidak minum, tidak tidur, dan tidak mendekati istriku hingga aku berkata dalam hati, “Peraturan wahai Tuanku!” Beliau berkata kepadaku, “Barangsiapa memelihara hal tersebut dalam hak gurunya, maka ia naik ke tingkat pergaulan yang benar dengan Allah, karena tingkatan syaikh menanamkan kecanduan pada murid untuk melatih diri sebelum bergaul dengan Allah. Jika murid tidak memelihara adab kepada syaikhnya, maka perbuatannya bagi Allah tidak sah kecuali karena kecerobohan, dan dalam hal tersebut tidak ada kenaikan tingkat.”
             Beliau juga berkata, “Setiap murid dilarang syaikhnya untuk mengambil salah satu dari dunia dan mengotori dirinya dengan hal tersebut. Demikian pula, kadang-kadang ia membenci takdir Allah bila dicegah dari sesuatu yang dituntutnya. Analogilah hal-hal lain dengannya. Oleh karena itu, hendaklah murid berhati-hati untuk tidak mengotori dirinya bila syaikh menjauhkannya dari emas dan buah-buahan, misalnya, tetapi ia melupakannya, karena itu merupakan adab yang buruk kepada syaikh. Wallahu a’lam.”
             Termasuk adab murid adalah selalu waspada terhadap hal-hal yang tidak diperintahkan syaikhnya atau yang dilarangnya, dan tidak jelas perintah atau larangannya, terutama dengan kehadiran orang yang bukan dari kalangan kaum sufi, tetapi ia memahami rumus dan isyarat. Pelayanan Syaikh Abu Yazid al-Bistami r.a. tidak membutuhkan perkataan. Abu Yazid hanya berkata kepadanya melalui hati, tidak melalui kata-kata, tetapi pelayan itu memahami perintahnya dan melaksanakannya. Demikian pula, hal tersebut terjadi pada Sidi Abu al-Abbas al-Ghamri kepada pelayannya.
             Syaikh ‘Abdullah al-Fa’il berkata, “Sekali waktu, Syaikh Abu al-Abbas berkata kepadaku melalui batin tanpa kata-kata. Aku pun memahami perintah itu dan membawakan makanan, minuman, dan pakaian yang dimintanya.”
             Syaikh Muhammad ath-Thanikhi memberitahu salah seorang sahabatnya. Beliau berkata, “Pada suatu hari, Sidi Abu al-Abbas berkata, ‘Wahai Muhammad, aku ingin engkau memahami isyaratku tanpa kata-kata dan engkau melaksanakan semua yang aku katakana kepadamu melalui hatiku.’ Aku jawab, ‘Ya. ‘Kemudian, putra Sultan Qayid Bay menemui kami dan syaikh berpaling dariku. Aku tidak berani menanyakan perintah itu sampai beliau meninggal.”
TIDAK MENYERTAKAN SIAPAPUN DALAM MENCINTAI SYAIKH
            Diantara adab murid kepada syaikh adalah bahwa, dalam mencintai syaikhnya, murid tidak boleh menyertakan orang lain yang tidak diperintahkan Allah untuk dicintai. Beliau meletakkan cinta kepada Allah ditengah hatinya dan cinta kepada Rasulullah saw. di dekatnya. Demikianlah tingkatan-tingkatan para kekasih. Menurut syariat, mencintai mereka merupakan keimanan. Kecintaan kepada orang-orang seperti mereka tidak merusak kecintaan kepada syaikh karena hal itu diperintahkan Allah kepada murid.
             Sidi ‘Ali bin Wafa r.a. berkata, “Mencintai para nabi, para wali dan orang-orang mukmin yang salih tidak merusak kecintaan kepada syaikh, karena hal itu termasuk perintah syariat. Syariat adalah cahaya, dan cahaya-cahaya saling berjalin serta berbeda dengan hal-hal yang dilarang, karena demikian itu merupakan kegelapan pekat yang tidak saling berjalin. Jika di dalam satu rumah diletakkan seribu lampu, maka seluruh cahayanya akan tersebar.”
             Beliau juga sering berkata, “Berhati-hatilah kalian agar jangan sampai kalian menyertakan syaikh lain dalam mencintai syaikh kalian, karena kaum sufi laksana gunung-gunung. Mereka berada diatas akhlak Ilahi yang ditunjukkan oleh sabda Rasulullah saw., ‘Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah.’Sebagaimana Allah tidak mengampuni bila Dia disekutukan,’ demikian pula kecintaan pada para syaikh tidak diperkenankan untuk dipersekutukan. Sebagaimana gunung-gunung tidak dapat digerakkan dari tempatnya kecuali oleh kemusyrikan kepada Allah selama alam ini ada, demikian pula halnya wali. Tidak dapat dihilangkan keinginan kuatnya untuk memelihara murid dari penyakit kecuali bila ada orang yang menempati tempat cinta sejati dalam hatinya. Allah berfirman: Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak (QS 19:90-91). Artinya, ucapan syaikh harus diikuti. Oleh karena itu, wahai saudaraku tututlah ketulusan dari dirimu dalam dalam mencintai gurumu dan engkau memperoleh apa yang engkau inginkan. Janganlah engkau menuntutnya sehingga hatinya sibuk denganmu. Abaikan urusan dirimu, karena hal itu sungguh tidak berguna!
MEMELIHARA SHOLAT DI ZAWIYAH SYAIKHNYA
           Diantara adab murid kepada syaikhnya adalah bahwa bila rumahnya jauh dari tempat syaikhnya, hendaklah ia memelihara shalat di zawiyah syaikhnya sedapat mungkin. Aku punya seorang teman bernama Syaikh Abu Bakar ad-Dirini yang tinggal di samping Masjid al-Azhar. Beliau pernah shalat jum’at di rumahku dan meninggalkan Masjid al-Azhar padahal disana banyak jama’ahnya. Aku katakana kepadanya, “Shalatlah di Masjid al-Azhar, karena hal itu lebih utama bagimu. “Beliau menjawab, “Dalam hal ini aku punya alas an berdasarkan syariat. “Aku takjub dengan ketulusan dan keyakinannya. Bila murid tidak mudah shalat Jum’at disamping gurunya, hendaklah ia membayangkan bahwa ia shalat di sebuah masjid tertentu, karena hukum berlaku di dalam hati, bukan di dalam fisik.
            Termasuk adab murid adalah meyakini syaikhnya sebagai orang yang mengetahui pikiran dan segenap aib batiniahnya daripada dirinya sendiri. Namun, ini terjadi melalui pengilhaman, bukan dari buruk sangka dan penyingkapan setan. Penjelasannya adalah bahwa orang awam tidak menganalogikan dengan yang lain dan hanya menimbang yang baik dan buruk yang ada di dalam batinnya. Para syaikh telah naik tingkat melalui hal ini. Di dalam batin mereka tidak ada keburukan selamanya sehingga mereka menganalogikan keadaan orang lain dengannya. Ketika Allah mengetahui kebutuhan murid agar para syaikh mengetahui keburukan di dalam batinnya untuk diobati dan dihilangkan, Dia memberikan ilham yang benar kepada mereka menggantikan timbangan yang mereka gunakan untuk menimbang keadaan-keadaan manusia. Dia lebih mengetahui keadaan murid daripada murid itu sendiri. Hal itu dibuktikan dengan dokter hewan yang lebih mengetahui keadaan hewan daripada pemilik hewan. Padahal pemilik hewan itu bergaul dengan hewan miliknya siang malam. Keyakinan itu sedikit sekali dimiliki para murid.
            Sidi ‘Ali bin Wafa r.a. berkata,”Hingga kini, aku tidak menemukan seorang murid yang tulus bersamaku.”Beliau mengaku kepadaku, “Aku lebih mengetahui pkiran-pikiran dan sifat-sifat batiniahnya daripada dirinya sendiri. kalau aku menemukannya tentu aku akan memenuhinya dengan ilmu dan rahasia yang aku miliki.”
             Beliau juga berkata, ‘Semua syaikh meninggal karena kesedihan mereka. Mereka tidak menemukan orang yang dapat memikul rahasia-rahasia mereka. Namun, barangsiapa kehilangan rahasia guru, maka hendaklah ia menekuni wiridnya, karena rahasianya berada di dalamnya.”
             Sidi Ibrahim ad-Dasuqi r.a. berkata, “Wahai muridku, jika engkau tulus bersamaku dan perjanjianmu benar, maka aku dekat denganmu, tidak jauh. Aku berada di dalam pikiranmu. Aku berada disampingmu. Aku berada di dalam semua inderamu, baik lahiriah maupun batiniah. Akan tetapi jika engkau tidak tulus bersamaku, maka engkau jauh dan tidak menyaksikanku.”
             Beliau juga berkata, ‘Jika murid tulus kepada syaikhnya dan memanggil syaikhnya dalam jarak seribu tahun, maka syaikh akan menjawabnya, baik masih hidup maupun sudah meninggal. Oleh karena itu, hendaklah orang tulus menghadap dengan sepenuh hatinya kepada syaikhnya dalam setiap perkara yang menimpanya di dunia, karena ia akan mendengar suara syaikhnya dan syaikhnya akan menolongnya, betapapun ia dihadapkan dengan kesulitan batiniahnya, menutup kedua matanya dan membuka mata hatinya. Beliau melihat syaikhnya secara nyata, mintalah keoadanya apa yang ia inginkan.”
Beliau berkata, “Wahai anakku, bila engkau memang tulus, bersahabatlah hanya dengan syaikhmu dan bersabarlah bila ia menelantarkanmu. Sebab, kadang-kadang ia mengujimu dengan meninggalkan kebaikan yang engkau inginkan darinya sehingga engaku menjadi tempat bagi rahasia-rahasianya dan tempat terbit cahaya-cahayanya.”
            Beliau juga berkata, “Murid yang tulus bersama syaikhnya adalah seperti mayat kepada orang yang memandikannya, tidak berbicara dan tidak bergerak. Beliau tidak mampu berkata karena ketakutan kepadanya, tidak masuk, tidak keluar, tidak bergaul dengan orang lain, tidak menyibukkan dirinya dengan suatu ilmu, Al qur’an ataupun dzikir kecuali dengan izin syaikhnya. Sebab, syaikh adalah kepercayaan murid dalam hal-hal yang memungkinkannya naik tingkat. Betapa banyak perbuatan utama yang dimasuki hawa nafsu sehingga menjadi perbuatan yang tidak utama!”
            Beliau berkata, “Demikianlah tarekat ulama terdahulu dan ulama terkemudian kepada syaikh mereka. Dalam istilah mereka, syaikh adalah orang tua batiniah, dan anak tak boleh berbuat durhaka kepada orang tuanya. Hal ini bersifat umum dalam segala keadaan. Mereka tidak menjadikannya selain seperti mayat di hadapan orang yang memandikannya.”
           Oleh karena itu, wahai anakku, engkau harus menaati orang tuamu dan mendahulukannya dalam setiap perintahya kepadamu dari perintah-perintah Allah kepada orang tua jasmaniah, karena orang tua batiniah lebih berguna daripada orang tua jasmaniah. Sebab, orang tua batiniah memperlahkukan anak seperti sepotong besi yang keras. Beliau senantiasa mencairkannya dan menuangkannya ke dalam cetakan sehingga menjadi emas murni.
           Beliau juga berkata, “Banyak orang yang menyertai syaikh tanpa adab. Oleh karena itu, ia meninggal dan mereka tidak dapat mengambil manfaat darinya sedikit pun. Beliau membenci kedatangan orang-orang, kesertaan hal-hal yang berlawanan, dan mendengar murid.”
TIDAK BERPALING PADA DUNIA
TIDAK CUKUP SEKEDAR MEYAKINI SYAIKH
TIDAK MENGUBAH KEYAKINANNYA KEPADA SYAIKH
MERASA SELALU MEMBUTUHKAN ILMU SYAIKH
SELALU MENGHADAPKAN HATI KEPADA ALLAH
TIDAK MEREMEHKAN LARANGAN SYAIKH
MEMPERBANYAK SYUKUR ATAS PERTEMUAN DENGAN SYAIKH
TIDAK MELELAHKAN SYAIKH DALAM MEMBIMBINGNYA
TIDAK BERKATA “MENGAPA” KEPADA SYAIKH
TIDAK PERNAH MERASA TELAH MENYAMAI GURUNYA
TIDAK MENDATANGI GURU KECUALI DENGAN KETULUSAN
SELALU BERSAMA GURU SEPANJANG HIDUPNYA
BERKHIDMAT KEPADA ORANG YANG DIPILIH SYAIKH UNTUKNYA
JANGAN MENENTANG SYAIKH
BERSABAR ATAS SIKAP KERAS SYAIKHNYA
TANDA TANDA KEBERHASILAN MURID
MENDATANGI SYAIKH HANYA DISERTAI NIAT MEMINTA PETUNJUKNYA
MENDAHULUI BERTANYA KEPADA GURU HANYA KARENA TERPAKSA
SELALU MEMELIHARA ADAB KEPADA SYAIKH DAN TIDAK MENUNTUT KAROMAH DARINYA
TIDAK MENGGUNAKAN TIMBANGAN AKAL UNTUK UCAPAN SYAIKH
MEMBUKAKAN PINTU ADAB UNTUK TEMAN-TEMANNYA KEPADA SYAIKH
MELAKSANAKAN PERINTAH DAN LARANGAN SYAIKH
MEYAKINI KESEMPURNAAN SYAIKH
MELAKSANAKAN ISYARAT SYAIKH
MEMBERITAHUKAN ISI HATI KEPADA SYAIKH
BERLAPANG DADA DENGAN LARANGAN SYAIKH
MENYERTAI SYAIKH UNTUK DIBIMBING BUKAN UNTUK TUJUAN LAIN
TIDAK MEMATA-MATAI SYAIKH
KEYAKINAN KEPADA SYAIKH BERTAMBAH BILA TERSEMBUNYI
TIDAK MERASA PUAS DENGAN AYAH  DAN KAKEK DI DALAM TAREKAT
SEMAKIN LAMA, SEMAKIN BESAR PENGHORMATANNYA KEPADA SYAIKH
MEYAKINI BAHWA TAREKAT SYAIKH BERDASARKAN ALQURAN DAN SUNNAH NABI SAW
MENGOSONGKAN HATI DARI ILMU YANG TELAH DIPEROLEH KETIKA DUDUK DI HADAPAN SYAIKH
SEGERA BERDAMAI DENGAN SYAIKH
MENGADUKAN KHAWATHIR YANG MENETAP KEPADA SYAIKH
MENAKWIL TINDAKAN-TINDAKAN SYAIKH
MELAKSANAKAN PERINTAH SYAIKH TANPA MENUNDA-NUNDA
MENDAHULUKAN PILIHAN SYAIKH
MENGIKUTI SYAIKH DALAM MENCINTAI DAN MEMBENCI
MELAKSANAKAN PERINTAH SYAIKH SELAMA MENGETAHUI SYARAT-SYARATNYA
SIKAP PADA SAJADAH, KHALWAT DAN RUMAH SYAIKH
SIKAP MURID BILA SYAIKH MENDAHULUKAN TEMANNYA
SIKAP KEPADA TEMAN-TEMAN KHUSUS SYAIKH
DEDIKASI DALAM BERKHIDMAT KEPADA SYAIKH BILA DIAJAK DALAM PERJALANAN
SIKAP MURID BILA MENCINTAI SELAIN SYAIKH
KONSULTASI MURID KEPADA SYAIKH
KEADAAN MURID KETIKA BERJALAN BERSAMA SYAIKH
MELIHAT TIDUR SYAIKH LEBIH UTAMA
SIKAP MURID KEPADA ISTRI SYAIKH
SIKAP MURID KEPADA KELUARGA SYAIKH
TIDAK MEMANDANG WAJAH SYAIKH
TIDAK MENYEMBUNYIKAN AKHLAK KEPADA SYAIKH
TIDAK KELUAR DARI ZAWIYA KECUALI SEIJIN SYAIKH
SIKAP MURID BILA DICELA SYAIKH DI HADAPAN TEMAN-TEMANNYA
MENGUTAMAKAN MENYERTAI SYAIKH KETIMBANG BERPERGIAN ATAU BERHAJI
SIKAP MURID KETIKA TINGGAL DI ZAWIYA SYAIKH
TUGAS MURID ADALAH MEMPERBANYAK ZIKIR KEPADA ALLAH DENGAN SUARA PERLAHAN ATAU KERAS
MENINGGALKAN SUATU YANG DIPERINTAHKAN SYAIKH UNTUK DITINGGALKAN
MENDAHULUKAN PERINTAH SYAIKH KETIMBANG HAWA NAFSU
BERSEGERA MELAKSANAKAN PERINTAH SYAIKH
MEMULIAKAN KEHADIRAN SYAIKH
TIDAK MENJULURKAN KAKI KE ARAH SYAIKH
BERZIKIR DENGAN SUARA KERAS DI TENGAH KERAMAIAN BILA DIPERINTAH SYAIKH
SIKAP MURID BILA INGIN BERZIKIR DI RUMAH
TIDAK MENGERASKAN SUARA ZIKIR BILA MENGGANGGU ORANG LAIN
TIDAK DUDUK DI MAJELIS SYAIKH YANG KHUSUS BAGI PARA PENCINTA DUNIA
KUNJUNGAN KEPADA SYAIKH SEJAMAN
MEMULIAKAN SYAIKH
SIKAP MURID KEPADA ORANG YANG DITUNJUK KEPADA SYAIKH
SIKAP MURID KEPADA AIB SYAIKH
KAPAN MURID BOLEH MENYERTAI SYAIKH
MURID TIDAK MEMBEBANI SYAIKHNYA
MEMELIHARA ADAB KEPADA SYAIKH SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI DAN TERANG-TERANGAN
CARA DUDUK DI HADAPAN SYAIKH
CARA MENINGGALKAN MAJELIS SYAIKH
BERTANYA KEPADA SYAIKH
MENGIKATKAN HATI KEPADA SYAIKH
KEYAINAN PADA TINDAKAN SYAIKH
TIDAK MENINGGALKAN SYAIKH
TIDAK MEMBIARKAN ADAB BURUK
MENGAGUNGKAN SYAIKH
MENGHORMATI TAREKAT
CARA MEMENUHI KEBUTUHAN SYAIKH
MEMENUHI SYARAT YANG DIBERIKAN SYAIKH
KENYAKINAN MURID PADA SYAIKH
BERSUCI BILA HENDAK BERTEMU SYAIKH
SIKAP MURID BILA DUDUK ERSAMA SYAIKH
MENERIMA KEPUTUSAN SYAIKH
PEMBICARAAN MURID KEPADA SAIKH
TIDAK BERPALING KEPADA SYAIKH LAIN
SIKAP MURID BILA SYAIKG PERGI DAN MENINGGALKANNYA DI TEMPAT
SIKAP MURID BILA SYAIKH MENGAJAKNYA BERMUSYAWARAH
JANGAN SHOLAT MEMBELAKANGI SYAIKH
SIKAP MURID DALAM BERDZIKIR DAN BERIBADAH
BERSIKAP RENDAH HATI
PENUTUP:
SIFAT-SIFAT SYAIKH YANG HARUS DIPERLAKUKAN DENGAN ADAB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar